Selasa, 15 Maret 2016

The Essential of Study Abroad


Sumber Gambar: http://en.ceaie.edu.cn/agencies?columnid=39
 Globalization makes the world has no boundary. It is possible for everyone to explore every part in this world. Especially as the young people, we need to expand our experience. Moreover, young people with their innovation, creativity and open-mindedness are necessary to be developed. Studying abroad may be one of the best solutions because studying abroad will bring beneficial experiences for college students.
Experiencing new cultures will be one of the most exciting moments that you get when studying abroad. The first time you arrive in the new place that you have not visited before, you will see many different things like traditions, customs and values that totally different from your own homeland. If you have not been ready yet, you will face cultural shock, but you just need to adapt for a while and you will be accustomed. This condition will teach you to be tolerant toward each other.
Sumber Gambar: http://www.playbuzz.com/collegexpress10/

Studying abroad will practice you to be an independent person. Living far away from home sometimes will be frightening, but it will lead you to be independent in managing your time and daily needs. You must have responsibility towards yourself. How well you manage yourself is based on you.
Building network is one of the most important things that you should do when studying abroad. When going to the new places, we will meet a lot of friends with different backgrounds and personalities. Every person that we meet is very important because we do not know whether in the future we need a help each other. Maintain our friendship well will help us to have long last network.
Going to a foreign country means that you will face new environment including the language. Mastering the second language will be essential when studying abroad. Although you have not mastered well, you can improve your second language skill by immersing yourself to native people. Based on the research in the U.S, immersing to the native environment becomes the most efficient method to learn the second language.
In conclusion, studying abroad is one of the most valuable opportunities for college students to improve their personal development. There are many benefits that college students can get while studying abroad, such as facing new culture, practicing independent life, building network and developing language skill.
*Written to  fullfil the Advanced Writing Assignment Class

Jumat, 04 Maret 2016

Istana Al-Hambra di Granada, Saksi bisu Kejayaan Islam

Sumber Gambar: http://www.letstakethekidstravel.com
Istana Alhambra didirikan oleh kerajaan Bani Ahmar atau bangsa Moor dari daerah Afrika Utara. Bani Ahmar adalah penguasa kerajaan Islam terakhir yang berkuasa di Andalusia (Spanyol).
Istana Alhambra berdiri kokoh di bukit La Sabica, Granada, Spanyol. Ia menjadi saksi bisu sekaligus bukti sejarah kejayaan Islam di Spanyol (dulu Andalusia).
Nama Alhambra berasal dari bahasa Arab, hamra’ , bentuk jamak dari ahmar yang berarti “merah”. Dinamakan Istana Alhambra–yang berarti Istana Merah–karena bangunan ini banyak dihiasi ubin-ubin dan bata-bata berwarna merah, serta penghias dinding yang agak kemerah-merahan dengan keramik yang bernuansa seni Islami, di samping marmer-marmer yang putih dan indah.
Namun demikian, ada pula yang berpendapat, nama Alhambra diambil dari Sultan Muhammad bin Al-Ahmar,  pendiri kerajaan Islam Bani Ahmar –kerajaan Islam terakhir yang berkuasa di Spanyol (1232-1492 M).
Selain menjadi bukti kejayaan Islam, Istana Alhambra yang bernilai seni arsitektur tinggi ini juga memperlihatkan peradaban tinggi umat Islam tempo dulu.
 Istana Alhambra adalah simbol puncak kejayaan Islam di Spanyol. Islam masuk ke negeri ini dibawa oleh pasukan Islam pimpinan Thariq bin Ziyad yang dikirim raja muda Islam di Afrika, Musa bin Nusair. Pasukan Islam sendiri datang untuk memerdekakan Andalusia (Spanyol) dari kekacauan hebat atas permintaan Gubernur Ceuta, Julian.
Thariq membawa sekitar 12.000 pasukan ke Gibraltar pada Mei 711 M. Ia memasuki Spanyol lewat selat di antara Maroko dan Spanyol yang kemudian diberi nama sesuai dengan namanya, Jabal Thariq.
Tanggal 19 Juli 711 M pasukan Islam mengalahkan pasukan Kristen di daerah Muara Sungai Barbate, dan terus menguasai kota-kota penting –Toledo, Kordoba, Malaga, dan Granada, hingga akhirnya Spanyol berada di bawah kekuasaan Khilafah Bani Umayyah (Suriah). Sejumlah kerajaan Islam pun berdiri di Spanyol, seperti di Toledo (Raja Muda, 711-756 M), Malaga (Raja Hamudian, 1010-1057), Saragoza (Raja Tujbiyah, 1019-1039 dan Raja Huddiyah, 1039-1142), Valencia (Raja Amiriyah, 1021-1096), Badajos (Raja Aftasysyiyah, 1022-1094), Sevilla (Raja Abbadiyah, 1023-1069), dan Toledo (Raja Dzun Nuniyah, 1028-1039).
Sumber Gambar: http://planetden.com



Hampir delapan abad lamanya Islam berkuasa di Spanyol dengan ibukotanya Cordoba. Selain Istana Alhambra, satu lagi monumen penting kejayaan Islam di Spanyol adalah Masjid Cordoba yang kini beralihfungsi menjadi Gereja Santa Maria de la Sede atau katedral “Virgin of Assumption”.
stana Alhambra didirikan oleh kerajaan Bani Ahmar atau bangsa Moor (Moria) dari daerah Afrika Utara. Bangsa Moor adalah penguasa kerajaan Islam terakhir yang berkuasa di Andalusia (Spanyol), Daulah Bani Ahmar (1232-1492 M). Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Muhammad bin Al-Ahmar atau Bani Nasr yang masih keturunan Sa’id bin Ubaidah, seorang sahabat Rasulullah saw dari suku Khazraj di Madinah.
Pembangunan Istana Alhambra dilakukan secara bertahap, antara tahun 1238 dan 1358 M. Istana ini dilengkapi taman juga bunga-bunga indah nan harum. Ada juga Hausyus Sibb (Taman Singa) yang dikelilingi oleh 128 tiang yang terbuat dari marmer.
Sumber Gambar: http://www.kelanaconvoy.co.uk/spain.htm
Di taman ini pula terdapat kolam air mancur yang dihiasi dengan 12 patung singa yang berbaris melingkar, yakni dari mulut patung singa-singa tersebut keluar air yang memancar. Di dalamnya terdapat berbagai ruangan yang indah, yaitu Ruangan Al-Hukmi (Baitul Hukmi), yakni ruangan pengadilan dengan luas 15 m x 15 m yang dibangun oleh Sultan Yusuf I (1334-1354); Ruangan Bani Siraj (Baitul Bani Siraj), ruangan berbentuk bujur sangkar dengan luas bangunan 6,25 m x 6,25 m yang dipenuhi dengan hiasan-hisan kaligrafi Arab.
Ada pula Ruangan Bersiram (Hausy ar-Raihan), ruangan yang berukuran 36,6 m x 6,25 m yang terdapat pula al-birkah atau kolam pada posisi tengah yang lantainya terbuat dari marmer putih. Luas kolam ini 33,50 m x 4,40 m dengan kedalaman 1,5 m, yang di ujungnya terdapat teras serta deretan tiang dari marmer; Ruangan Dua Perempuan Bersaudra (Baitul al-Ukhtain), yaitu ruang yang khusus untuk dua orang bersaudara perempuan Sultan Al-Ahmar; Ruangan Sultan (Baitul al-Mulk); dan masih banyak ruangan-ruangan lainnya, seperti ruangan Duta, ruangan As-Safa’, ruangan Barkah, Ruangan Peristirahatan sultan dan permaisuri. Di sebelah utara ruangan ini ada sebuah masjid yakni Masjid Al-Mulk. 
Selain itu, istana merah ini dikelilingi oleh benteng dengan plesteran yang kemerah-merahan. Yang lebih unik lagi pada bagian luar dan dalam istana ini ditopang oleh pilar-pilar panjang sebagai penyangga juga penghias istana Alhambra. Dinding luar dan dalam istana banyak dihiasi kaligrafi dengan ukiran khas yang sulit dicari tandingannya hingga kini.
Raja-raja Bani Ahmar sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Saat itu bidang pertanian dan perdagangan sangat maju. Yang menyebabkan kerajaan ini jatuh adalah kerapuhan dari dalam, yakni sengketa yang terjadi di dalam kerajaan sendiri.
Sultan Muhammad XII Abu Abdillah an Nashriyyah, raja terakhir Bani Ahmar, tidak berhasil mempertahankan kerukunan keluarga kerajaan. Akhirnya energi mereka terkuras. Akibat fatalnya, kerajaan pun tidak dapat bertahan ketika datang serangan dari dua buah kerajaan Kristen yang bersatu, Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella. Kedua pemimpin kerajaan ini pula yang mendukung penjelajahan Columbus tahun 1492 M.
Pada pertengahan 1491, Raja Ferdinand V mengepung Granada selama tujuh bulan. Ia berhasil menguasai kota Malaga –kota pelabuhan terkuat di Andalusia, lalu Guadix dan Almunicar, Baranicar, dan Almeria. Basis kerajaan Bani Ahmar, Granada, pun akhirnya tunduk, tepatnya tanggal 2 Januari 1492 M/2 Rabiul Awwal 898 H. Kota ini diserahkan oleh raja terakhir Bani Ahmar, Abu Abdillah. Prosesi penyerahan Granada dilakukan di halaman Istana Alhambra.
Keberhasilan Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella menguasai Granada, membuat Paus Alexander VI (1431-1503) yang terkenal dengan perjanjian Tordesillasnya tahun 1494 memberi gelar kepada raja dan ratu ini sebagai “Catholic Monarch” atau “Los Reyes Catolicos” atau Raja Katolik.
Kejatuhan Daulah Bani Ahmar merupakan akhir sejarah kejayaan Islam di Spanyol. Pasca kejatuhan kerajaan Islam terakhir ini, umat Islam diberi dua pilihan: berpindah keyakinan (masuk Kristen) atau keluar dari tanah Spanyol.
Memasuki Abad 16, Andalusia (Spanyol) yang selama 8 Abad dalam kekuasaan Islam, bersih dari keberadaan umat Islam. Kemegahan dan keindahan Istana Alhambra pun luntur setelah menjadi Istana Kristen. Demikian pula Masjid Cordova yang dijadikan katedral “Virgin of Assumption”.
Namun Islam tidak benar-benar lenyap di negeri ini. Kini umat Islam di Spanyol diperkirakan sudah mencapai 750.000 orang (data sensus 2000) dari 40 juta jumlah total penduduk Spanyol. Islam menggeliat bangkit ketika pemerintah Spanyol mengakui Islam sebagai agama resmi berdasarkan UU Kebebasan Beragama yang disahkan pada Juni 1967.

*dikutip dari berbagai sumber

Islam di Andalusia (Spanyol)

Sumber Gambar: http://patahkekeringan.blogspot.co.id

Spanyol selama ini dikenal sebagai negara matador, negara yang mempunyai kebiasaan adu banteng. Negara yang nama aslinya Estado Espanyol ini merupakan salah satu negara tertua di dunia. Ia merupakan bangsa penakluk dan paling luas pengaruhnya pada masa lampau. Bahkan pada masa Hapsburg pernah menjadi negara adi kuasa di dunia. Tetapi generasi selanjutnya, tidak mewariskan pembaruan yang berarti. Mayoritas penduduknya beragama Katholik hingga mencapai 90% dari jumlah keseluruhan.

Bila di terawang lebih jauh, negara yang dahulunya disebut Andalusia itu menyimpan sejarah yang panjang. Sebuah sejarah Islam yang penuh dengan warna; kejayaan dan keruntuhan Islam, simbol perlawanan kaum muslim terhadap Kristenisasi yang dilancarkan Barat, dan berbagai kegelisahan yang melanda kaum muslim Spanyol.

Islam di awal perkembangannya merambah hingga Afrika dan Eropa, termasuk sebagian besar semenanjung Iberia yang kini dikenal sebagai wilayah Portugal dan Spanyol. Secara historis, munculnya Islam di Spanyol dimulai dari perjuangan yang dilakukan Thariq ibnu Ziyad. Saat itu sebanyak 7.000 pasukan yang dipimpinnya tiba di dataran Andalusia. Mereka mengarungi selat yang memisahkan tanah Maroko di Afrika Utara dengan Eropa. Peristiwa pada tahun 711 itu mengawali masa-masa Islam di Spanyol.

Thariq mengalahkan pasukan Raja Rodherick di Bakkah. Setelah itu maju untuk merebut kota Cordoba, Granada dan Toledo. Ketika merebut Toledo, Thariq di perkuat dengan 5.000 orang tentara tambahan yang dikirim Gubernur Musa ibnu Nushair. Thariq sukses. Bukit-bukit di pantai tempat pendaratannya lalu dinamai Jabal Thariq, yang kemudian populer dengan nama Gibraltar.

Selanjutnya Islam mengalami masa kegemilangan di Spanyol. Tempat-tempat strategis, seperti jalan-jalan dan pasar-pasar, yang tadinya hancur direhab. Distribusi tekstil, kayu, logam dan industri barang-barang tembikar semakin lancar. Dibidang pertanian, mulai dikenalkan sistem irigasi yang lebih maju kepada masyarakat Spanyol yang sebelumnya buta akan teknik bertani. Mereka diajarkan membuat roda air (water wheel) penggerak pompa hidrolik. Bagi petani yang tinggal jauh dari sumber air, atau dataran-dataran tinggi dibuatkan dam, saluran sekunder, tersier dan jembatan air.

Sejumlah bangunan Islam juga mulai didirikan, diantaranya; Masjid Cordoba, tembok Toledo, Masjid Sevilla, Istana Al-Hamra Granada dan sebagainya. Perkembangan Islam semakin luar biasa dengan lahirnya filsuf-filsuf muslim. Sebut saja : Ibnu Bajjah, Ibnu Tufail dengan karya monumentalnya Hayy bin Yaqdzan, Abbas ibnu Fammas (pakar kimia dan astronomi) dan Ibnu Rusyd.

Di Cordoba yang menjadi pusat ilmu dan teknologi Islam, sekaligus pusat kebangkitan (renaissance) Eropa itu dibangun pula patung-patung para tokoh terkenal abad pertengahan, seperti: patung Ibnu Rusyd (Averroes) dan muridnya Musa bin Maimun (Maimonedes).

Kekayaan umat Islam di Spanyol sejak zaman Cordoba (756-1031) hingga zaman Granada (1232-1492) berdampak positif terhadap kehidupan umat agama lain. Terutama Yahudi yang dihina dan dianiaya di seluruh Eropa, tetapi mendapat tempat terhormat di kalangan umat Islam Spanyol. Solomon ben Gazirol, penulis buku History of the Jews (1986) menyebutkan masa pemerintahan umat Islam di Spanyol adalah masa keemasan (the golden age).

Sayangnya, kekayaan Islam hanya bertahan sampai sekitar 750 tahun. Setelahnya, muslim di Spanyol mulai tak berdaya dan tak bisa berbuat banyak di negeri itu. Tonggak perjuangan yang di pancangkan oleh Thariq bin Ziyad, lambat laun mulai terisolir. Berbagai kemajuan dalam bidang sains dan teknologi hanya menjadi kenangan-kenangan manis. Kondisi Islam berbalik drastis, ibarat bintang yang telah runtuh dari mahkotanya akibat gencetan-gencetan Kristen Spanyol dan tidak konsistennya orang Islam sendiri.

Analisis yang ada mencatat bahwa kemunduran Islam di Spanyol disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, kelengahan para penguasa muslim. Mereka terkena oleh kekuasaan yang didapatinya tanpa mau mengembangkan lebih jauh, bahkan tidak siap mengantisipasi tantangan-tantangan yang datang dari Barat. Kedua, tidak ada persatuan dan kesatuan diantara kaum muslim. Sikap yang ditunjukkan muslim pribumi terasa tidak bersahabat dengan muslim pendatang, bahkan seperti musuh.

Ketiga, sistem peralihan kekuasaan yang tak jelas. Diantara ahli waris kerajaan saling berebut tahta. Keempat, kesulitan ekonomi. Fokus pembangunan hanya tercurah pada bidang ilmu pengetahuan. Akibatnya, ketika krisis ekonomi melanda, mereka tak mampu bangkit lagi.

Di sisi lain, kaum Kristen terus mengoyak-oyak kehidupan kaum muslim. Mereka bertekad merampas kota-kota yang diduduki kaum muslim sampai seluruhnya bisa dikuasai.

Kaum muslimin akhirnya kehilangan semua kekuasaannya di Spanyol pada 1492. Oleh penguasa Kristen 1502 mengeluarkan perintah mengharuskan semua umat Islam masuk agama Kristen, dan ketika ini tidak berhasil, mereka memaksakan pembatasan brutal kepada Muslim Spanyol yang masih tersisa.
Dikutip dari berbagai sumber.

Penantian 16 Tahun atau Back-to-Back? Spanyol dan Argentina Berebut Takhta Dunia

Laga puncak Piala Dunia 2026 akan mempertemukan dua tim terbaik sepanjang turnamen, Spanyol dan Argentina di MetLife Stadium, New Jersey, Am...