Kamis, 09 Juli 2026

Kejayaan Spanyol Kembali atau Belgia Ciptakan Kejutan?



Laga perempat final lainnya mempertemukan dua kekuatan besar Eropa, Spanyol dan Belgia. Spanyol pernah menikmati masa kejayaan dengan meraih tiga gelar bergengsi secara beruntun, yakni juara Euro 2008, Piala Dunia 2010, dan Euro 2012. Namun, setelah itu performa La Roja sempat mengalami penurunan, termasuk tersingkir lebih awal pada edisi Piala Dunia sebelumnya. Di bawah asuhan pelatih baru, Spanyol kembali menunjukkan kebangkitannya dengan menjuarai Euro 2024 serta finis sebagai runner-up UEFA Nations League 2025. Kebangkitan tersebut menjadi modal penting bagi La Roja untuk kembali berburu gelar dunia.

Di sisi lain, Belgia kembali datang sebagai salah satu kekuatan yang patut diperhitungkan di Eropa. Meski era generasi emas yang dihuni Eden Hazard, dkk telah berakhir, De Rode Duivels berhasil melakukan regenerasi dengan cukup baik. Di bawah asuhan Rudi Garcia, Belgia kini mengandalkan kombinasi pemain muda berbakat dan sejumlah pemain berpengalaman yang tetap menjadi tulang punggung tim.

Perjalanan ke Perempat Final

La Furia Roja melaju ke babak perempat final dengan performa yang meyakinkan. La Roja tampil sebagai juara Grup H setelah mencatatkan hasil konsisten sepanjang fase grup. Memasuki fase gugur, pasukan Luis de la Fuente semakin menunjukkan kualitasnya dengan menyingkirkan Portugal 1-0 pada babak 16 besar. Dominasi penguasaan bola, organisasi permainan yang rapi, serta efektivitas dalam memanfaatkan peluang menjadi kunci keberhasilan Spanyol menjaga asa meraih gelar juara dunia kedua.

Sementara itu, Belgia juga menunjukkan karakter kuat dalam perjalanan menuju babak perempat final. Setelah keluar sebagai juara Grup G, De Rode Duivels menghadapi ujian berat saat bertemu Senegal di babak 32 besar. Sempat tertinggal dua kali, Belgia mampu bangkit melalui permainan menyerang yang agresif hingga membalikkan keadaan dan meraih kemenangan dramatis 3-2. Momentum kebangkitan tersebut berlanjut di babak 16 besar ketika Belgia tampil dominan dengan mengalahkan Amerika Serikat 4-1. Dua kemenangan itu menjadi bukti bahwa Belgia tidak hanya memiliki kualitas individu yang mumpuni, tetapi juga mentalitas pantang menyerah saat berada di bawah tekanan.

Deja vu Minim Gol Spanyol

Perjalanan Spanyol di Piala Dunia 2026 seolah menghadirkan deja vu kesuksesan mereka pada edisi 2010. Hingga babak perempat final, La Roja telah mencetak 8 gol, sama seperti total gol mereka saat menjuarai Piala Dunia 2010. Namun, produktivitas itu tidak tersebar merata karena enam gol tercipta saat menghadapi Arab Saudi dan Austria, sedangkan laga lainnya berakhir imbang 0-0 melawan Cape Verde serta kemenangan tipis 1-0 atas Uruguay dan Portugal. Separuh dari total gol tersebut dicetak oleh Mikel Oyarzabal yang telah mengoleksi 4 gol, sementara empat gol lainnya dibagi oleh tiga pemain berbeda. Meski produktivitas belum merata, Spanyol tetap tampil dominan lewat ball possession yang menjadi ciri khas mereka. Penguasaan bola yang tinggi membuat La Roja mampu mengontrol jalannya pertandingan dan menjaga pertahanan tetap solid dengan 5 clean sheet tanpa kebobolan.

Belgia yang Produktif

Berbeda dengan Spanyol, Belgia tampil sebagai salah satu tim paling produktif di Piala Dunia 2026. Setan Merah telah mengoleksi 15 gol, terbanyak di antara seluruh tim yang masih bertahan di turnamen. Ketajaman mereka juga tidak bergantung pada satu pemain. Charles De Ketelaere memimpin daftar pencetak gol tim dengan empat gol, disusul Romelu Lukaku yang mengoleksi tiga gol. Jeremy Doku, Kevin De Bruyne, dan Youri Tielemans masing-masing menyumbang dua gol, sementara Hans Vanaken dan Loïs Openda turut mencatatkan namanya di papan skor. Produktivitas yang merata serta variasi serangan inilah yang akan menjadi ujian terbesar bagi lini pertahanan Spanyol yang hingga kini belum sekalipun kebobolan dan menjadi tim dengan clean sheet terbanyak di turnamen.

Fun Fact: Curtois dan De Bryune, Satu Tim Tidak Saling Sapa

Pada 2012, hubungan antara Kevin De Bruyne dan Thibaut Courtois dikabarkan mulai merenggang setelah mantan kekasih De Bruyne, Caroline Lijnen, ketahuan berselingkuh dengan Courtois saat keduanya berada di Madrid. Sejak saat itu, De Bruyne disebut memutus hubungan personal dengan Courtois dan tidak lagi menganggapnya sebagai teman. Meski demikian, keduanya tetap menunjukkan sikap profesional setiap kali membela tim nasional Belgia walau tanpa bertegur sapa di dalam dan luar lapangan.

Duel Spanyol dan Belgia diprediksi akan menjadi pertarungan dua filosofi yang berbeda. Spanyol akan mengandalkan dominasi ball possession dan pertahanan yang kokoh, sementara Belgia mengusung lini serang yang lebih produktif dengan distribusi gol yang merata. Jika La Roja mampu mengendalikan tempo permainan seperti yang mereka lakukan sepanjang turnamen, peluang untuk melaju ke semifinal terbuka lebar. Namun, apabila Belgia berhasil memanfaatkan transisi cepat dan efektivitas lini depannya, bukan tidak mungkin si Setan Merah dapat menjadi tim pertama yang membobol gawang Spanyol sekaligus menghentikan langkah La Furia Roja di Piala Dunia 2026.


Disclaimer: artikel ini dirangkai dari berbagai sumber.






Misi Balas Dendam! Maroko Siap Hadapi Prancis dengan Segala Kengeriannya


Duel panas akan membuka babak perempat final Piala Dunia 2026 saat Maroko kembali berhadapan dengan Prancis. Pertemuan ini seolah menjadi dejavu dari Piala Dunia 2022 di Qatar, ketika langkah sensasional Singa Atlas harus terhenti di tangan Les Bleus pada babak semifinal. Kini, empat tahun berselang, Maroko datang dengan misi yang sama sekali berbeda: membalas kekalahan dan mengukir sejarah dengan melangkah ke semifinal.

Usai mencatat sejarah sebagai tim Afrika pertama yang menembus semifinal Piala Dunia pada edisi 2022, Maroko kini kembali membuktikan bahwa pencapaian tersebut bukanlah kebetulan. Datang dengan nahkoda baru Mohamed Ouahbi, Achraf Hakimi dkk tampil konsisten sepanjang turnamen dan sukses mengamankan tempat di babak perempat final setelah menyingkirkan Kanada dengan skor meyakinkan 3-0 pada babak 16 besar.

Di sisi lain, Prancis juga menunjukkan statusnya sebagai salah satu kandidat juara. Les Bleus melangkah ke delapan besar usai mengalahkan Paraguay dengan skor tipis 1-0 lewat pinalti. Meski tidak tampil seatraktif laga-laga sebelumnya, skuad asuhan Didier Deschamps tetap memperlihatkan kualitasnya.

Pertemuan kali ini dipastikan berlangsung dengan tensi tinggi. Bagi Maroko, laga melawan Prancis bukan sekadar perebutan tiket semifinal, tetapi juga kesempatan untuk membalas kekalahan 0-2 yang mereka alami pada semifinal Piala Dunia 2022. Saat itu, gol cepat Theo Hernandez dan tambahan gol Randal Kolo Muani mengakhiri perjalanan bersejarah Singa Atlas.

Perjalanan ke Perempat Final

Maroko melaju ke perempat final dengan catatan impresif tanpa sekalipun menelan kekalahan. Singa Atlas mengawali fase grup dengan hasil imbang 1-1 melawan Brazil, lalu meraih kemenangan atas Haiti dan Skotlandia. Di babak 32 besar, Maroko menyingkirkan Belanda lewat adu penalti setelah imbang tanpa gol hingga extra time. Di babak 16 besar, Maroko menghajar Kanada 3-0 untuk mengamankan tiket ke delapan besar.

Prancis juga tampil meyakinkan dalam perjalanannya menuju perempat final. Les Bleus menyapu bersih fase grup dengan tiga kemenangan atas Senegal, Irak, dan Norwegia. Di babak 32 besar, Prancis menyingkirkan Swedia dengan skor telak 3-0, sebelum mengamankan tiket ke delapan besar usai menaklukkan Paraguay 1-0 pada babak 16 besar.

Dulu dan Sekarang

Jika dibandingkan dengan pertemuan mereka di Piala Dunia 2022, baik Maroko maupun Prancis sama-sama mengalami perubahan yang cukup signifikan. Maroko kini bukan lagi sekadar tim kuda hitam, melainkan telah menjelma menjadi salah satu kekuatan baru sepak bola dunia. Berstatus sebagai juara Piala Afrika, Singa Atlas datang dengan perpaduan pemain senior berpengalaman dan generasi muda yang menjanjikan. Kehadiran Mohamed Ouahbi membawa warna baru bagi permainan Maroko. Pelatih yang sukses mengantarkan Singa Atlas menjuarai Piala Dunia U-20 itu menerapkan filosofi sepak bola yang lebih modern. Maroko kini lebih berani menguasai bola, membangun serangan dari lini belakang, dan tampil lebih agresif tanpa kehilangan disiplin yang selama ini menjadi identitas mereka.

Prancis juga mengalami transformasi yang membuat mereka semakin mengerikan, terutama di lini depan. Les Bleus kini tampil lebih tajam dengan produktivitas gol yang tinggi serta didukung para penyerang muda yang cepat, kreatif, dan klinis dalam memanfaatkan peluang. Kecepatan, kreativitas, serta ketajaman trio Dembele, Olise dan Mbappe membuat Les Bleus menjadi salah satu tim paling produktif di Piala Dunia 2026 dan menjadi ancaman bagi pertahanan mana pun.

Rekor Head to Head

Secara head to head, Prancis masih unggul atas Maroko. Dari enam pertemuan di level tim nasional senior, Les Bleus mengoleksi empat kemenangan, sementara Maroko baru sekali menang dan satu laga lainnya berakhir imbang. Pertemuan terakhir kedua tim terjadi pada semifinal Piala Dunia 2022 yang dimenangi Prancis dengan skor 2-0.

Pertemuan kembali Maroko dan Prancis dipastikan akan menjadi salah satu laga paling menarik di babak perempat final Piala Dunia 2026. Maroko datang dengan misi membalas kekalahan menyakitkan empat tahun lalu, sementara Prancis bertekad mempertahankan dominasinya dan melangkah lebih dekat menuju gelar juara. Dengan kualitas skuad, perubahan gaya bermain, serta motivasi besar yang dimiliki kedua tim, duel ini diprediksi berlangsung sengit hingga peluit akhir. Siapa pun yang mampu tampil lebih efektif dalam memanfaatkan peluang besar kemungkinan akan mengamankan satu tempat di babak semifinal Piala Dunia 2026.


Senin, 24 Agustus 2020

Treble Winner dan Rekor Sapu Bersih Kemenangan, nikmat mana lagi yang kamu dustakan? [Review Pertandingan]

       Setelah sempat menunda beberapa pertandingan lantaran merebaknya penularan virus Corona. Dini hari kemarin (24/8), pertandingan Liga Champion mencapai puncaknya dengan mempertemukan 2 klub raksasa Eropa, Paris Saint German dan Bayern Munchen. The Die Rotten datang dengan asa mengawinkan gelar ketiganya musim ini, sementara Le Parisien datang dengan semangat perdana lolos ke partai final. Piala kuping besar inipun menjadi incaran bagi Neymar dkk untuk menjuarai Liga Champion pertama kali. Dalam laga yang berlangsung di Estadio da Luz, Lisbon, Portugal ini kedua tim sama-sama memberikan perlawanan sengit hingga babak pertama berakhir dengan skor kacamata. Tampil di babak kedua, Bayern Munchen mulai menggedor serangan, alhasil , pada menit ke-59 sebuah gol berhasil diciptakan melalui tandukan Kingsley Coman ke gawang mantan klubnya. Tertinggal 1-0 memaksa PSG bekerja keras untuk menciptakan gol balasan. Sempat beberapa kali menciptakan peluang melalui Neymar dan Kylian Mbappe, namun kokohnya pertahanan Bayern yang diarsiteki Manuel Neuer masih susah di tembus. Hingga tambahan waktu 5 menit tidak ada lagi gol yang tercipta sekaligus menasbihkan Bayern Munchen sebagai penguasa Eropa musim ini. Tak tanggung-tanggung, prestasi The Bavarians juga menciptakan rekor sebagai satu-satunya tim yang menyapu bersih seluruh kemenangan dalam sejarah Liga Champion. 2 gelar Bundesliga dan DFB Pokal  yang telah lebih dulu mereka peroleh menjadikan Bayern mengulang prestasi musim 2012/2013 sebagai treble winner.  Kesuksesan Bayern musim ini tidak lain adalah berkat tangan dingin pelatih Hans-Dieter Flick yang baru mengawal FC Hollywood sejak 10 bulan lalu. Sungguh prestasi bersejarah bagi pelatih yang baru saja menapaki karirnya. Hans-Dieter Flick sebenarnya bukanlah nama baru di dunia sepak bola Jerman, dia pernah sama-sama mengarsiteki timnas Jerman sebagai asisten pelatih Joachim Loew selama 8 tahun.

Sumber Gambar: okezone.com
Research: bola.net, goal.com

Selasa, 15 Maret 2016

The Essential of Study Abroad


Sumber Gambar: http://en.ceaie.edu.cn/agencies?columnid=39
 Globalization makes the world has no boundary. It is possible for everyone to explore every part in this world. Especially as the young people, we need to expand our experience. Moreover, young people with their innovation, creativity and open-mindedness are necessary to be developed. Studying abroad may be one of the best solutions because studying abroad will bring beneficial experiences for college students.
Experiencing new cultures will be one of the most exciting moments that you get when studying abroad. The first time you arrive in the new place that you have not visited before, you will see many different things like traditions, customs and values that totally different from your own homeland. If you have not been ready yet, you will face cultural shock, but you just need to adapt for a while and you will be accustomed. This condition will teach you to be tolerant toward each other.
Sumber Gambar: http://www.playbuzz.com/collegexpress10/

Studying abroad will practice you to be an independent person. Living far away from home sometimes will be frightening, but it will lead you to be independent in managing your time and daily needs. You must have responsibility towards yourself. How well you manage yourself is based on you.
Building network is one of the most important things that you should do when studying abroad. When going to the new places, we will meet a lot of friends with different backgrounds and personalities. Every person that we meet is very important because we do not know whether in the future we need a help each other. Maintain our friendship well will help us to have long last network.
Going to a foreign country means that you will face new environment including the language. Mastering the second language will be essential when studying abroad. Although you have not mastered well, you can improve your second language skill by immersing yourself to native people. Based on the research in the U.S, immersing to the native environment becomes the most efficient method to learn the second language.
In conclusion, studying abroad is one of the most valuable opportunities for college students to improve their personal development. There are many benefits that college students can get while studying abroad, such as facing new culture, practicing independent life, building network and developing language skill.
*Written to  fullfil the Advanced Writing Assignment Class

Jumat, 04 Maret 2016

Istana Al-Hambra di Granada, Saksi bisu Kejayaan Islam

Sumber Gambar: http://www.letstakethekidstravel.com
Istana Alhambra didirikan oleh kerajaan Bani Ahmar atau bangsa Moor dari daerah Afrika Utara. Bani Ahmar adalah penguasa kerajaan Islam terakhir yang berkuasa di Andalusia (Spanyol).
Istana Alhambra berdiri kokoh di bukit La Sabica, Granada, Spanyol. Ia menjadi saksi bisu sekaligus bukti sejarah kejayaan Islam di Spanyol (dulu Andalusia).
Nama Alhambra berasal dari bahasa Arab, hamra’ , bentuk jamak dari ahmar yang berarti “merah”. Dinamakan Istana Alhambra–yang berarti Istana Merah–karena bangunan ini banyak dihiasi ubin-ubin dan bata-bata berwarna merah, serta penghias dinding yang agak kemerah-merahan dengan keramik yang bernuansa seni Islami, di samping marmer-marmer yang putih dan indah.
Namun demikian, ada pula yang berpendapat, nama Alhambra diambil dari Sultan Muhammad bin Al-Ahmar,  pendiri kerajaan Islam Bani Ahmar –kerajaan Islam terakhir yang berkuasa di Spanyol (1232-1492 M).
Selain menjadi bukti kejayaan Islam, Istana Alhambra yang bernilai seni arsitektur tinggi ini juga memperlihatkan peradaban tinggi umat Islam tempo dulu.
 Istana Alhambra adalah simbol puncak kejayaan Islam di Spanyol. Islam masuk ke negeri ini dibawa oleh pasukan Islam pimpinan Thariq bin Ziyad yang dikirim raja muda Islam di Afrika, Musa bin Nusair. Pasukan Islam sendiri datang untuk memerdekakan Andalusia (Spanyol) dari kekacauan hebat atas permintaan Gubernur Ceuta, Julian.
Thariq membawa sekitar 12.000 pasukan ke Gibraltar pada Mei 711 M. Ia memasuki Spanyol lewat selat di antara Maroko dan Spanyol yang kemudian diberi nama sesuai dengan namanya, Jabal Thariq.
Tanggal 19 Juli 711 M pasukan Islam mengalahkan pasukan Kristen di daerah Muara Sungai Barbate, dan terus menguasai kota-kota penting –Toledo, Kordoba, Malaga, dan Granada, hingga akhirnya Spanyol berada di bawah kekuasaan Khilafah Bani Umayyah (Suriah). Sejumlah kerajaan Islam pun berdiri di Spanyol, seperti di Toledo (Raja Muda, 711-756 M), Malaga (Raja Hamudian, 1010-1057), Saragoza (Raja Tujbiyah, 1019-1039 dan Raja Huddiyah, 1039-1142), Valencia (Raja Amiriyah, 1021-1096), Badajos (Raja Aftasysyiyah, 1022-1094), Sevilla (Raja Abbadiyah, 1023-1069), dan Toledo (Raja Dzun Nuniyah, 1028-1039).
Sumber Gambar: http://planetden.com



Hampir delapan abad lamanya Islam berkuasa di Spanyol dengan ibukotanya Cordoba. Selain Istana Alhambra, satu lagi monumen penting kejayaan Islam di Spanyol adalah Masjid Cordoba yang kini beralihfungsi menjadi Gereja Santa Maria de la Sede atau katedral “Virgin of Assumption”.
stana Alhambra didirikan oleh kerajaan Bani Ahmar atau bangsa Moor (Moria) dari daerah Afrika Utara. Bangsa Moor adalah penguasa kerajaan Islam terakhir yang berkuasa di Andalusia (Spanyol), Daulah Bani Ahmar (1232-1492 M). Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Muhammad bin Al-Ahmar atau Bani Nasr yang masih keturunan Sa’id bin Ubaidah, seorang sahabat Rasulullah saw dari suku Khazraj di Madinah.
Pembangunan Istana Alhambra dilakukan secara bertahap, antara tahun 1238 dan 1358 M. Istana ini dilengkapi taman juga bunga-bunga indah nan harum. Ada juga Hausyus Sibb (Taman Singa) yang dikelilingi oleh 128 tiang yang terbuat dari marmer.
Sumber Gambar: http://www.kelanaconvoy.co.uk/spain.htm
Di taman ini pula terdapat kolam air mancur yang dihiasi dengan 12 patung singa yang berbaris melingkar, yakni dari mulut patung singa-singa tersebut keluar air yang memancar. Di dalamnya terdapat berbagai ruangan yang indah, yaitu Ruangan Al-Hukmi (Baitul Hukmi), yakni ruangan pengadilan dengan luas 15 m x 15 m yang dibangun oleh Sultan Yusuf I (1334-1354); Ruangan Bani Siraj (Baitul Bani Siraj), ruangan berbentuk bujur sangkar dengan luas bangunan 6,25 m x 6,25 m yang dipenuhi dengan hiasan-hisan kaligrafi Arab.
Ada pula Ruangan Bersiram (Hausy ar-Raihan), ruangan yang berukuran 36,6 m x 6,25 m yang terdapat pula al-birkah atau kolam pada posisi tengah yang lantainya terbuat dari marmer putih. Luas kolam ini 33,50 m x 4,40 m dengan kedalaman 1,5 m, yang di ujungnya terdapat teras serta deretan tiang dari marmer; Ruangan Dua Perempuan Bersaudra (Baitul al-Ukhtain), yaitu ruang yang khusus untuk dua orang bersaudara perempuan Sultan Al-Ahmar; Ruangan Sultan (Baitul al-Mulk); dan masih banyak ruangan-ruangan lainnya, seperti ruangan Duta, ruangan As-Safa’, ruangan Barkah, Ruangan Peristirahatan sultan dan permaisuri. Di sebelah utara ruangan ini ada sebuah masjid yakni Masjid Al-Mulk. 
Selain itu, istana merah ini dikelilingi oleh benteng dengan plesteran yang kemerah-merahan. Yang lebih unik lagi pada bagian luar dan dalam istana ini ditopang oleh pilar-pilar panjang sebagai penyangga juga penghias istana Alhambra. Dinding luar dan dalam istana banyak dihiasi kaligrafi dengan ukiran khas yang sulit dicari tandingannya hingga kini.
Raja-raja Bani Ahmar sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Saat itu bidang pertanian dan perdagangan sangat maju. Yang menyebabkan kerajaan ini jatuh adalah kerapuhan dari dalam, yakni sengketa yang terjadi di dalam kerajaan sendiri.
Sultan Muhammad XII Abu Abdillah an Nashriyyah, raja terakhir Bani Ahmar, tidak berhasil mempertahankan kerukunan keluarga kerajaan. Akhirnya energi mereka terkuras. Akibat fatalnya, kerajaan pun tidak dapat bertahan ketika datang serangan dari dua buah kerajaan Kristen yang bersatu, Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella. Kedua pemimpin kerajaan ini pula yang mendukung penjelajahan Columbus tahun 1492 M.
Pada pertengahan 1491, Raja Ferdinand V mengepung Granada selama tujuh bulan. Ia berhasil menguasai kota Malaga –kota pelabuhan terkuat di Andalusia, lalu Guadix dan Almunicar, Baranicar, dan Almeria. Basis kerajaan Bani Ahmar, Granada, pun akhirnya tunduk, tepatnya tanggal 2 Januari 1492 M/2 Rabiul Awwal 898 H. Kota ini diserahkan oleh raja terakhir Bani Ahmar, Abu Abdillah. Prosesi penyerahan Granada dilakukan di halaman Istana Alhambra.
Keberhasilan Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella menguasai Granada, membuat Paus Alexander VI (1431-1503) yang terkenal dengan perjanjian Tordesillasnya tahun 1494 memberi gelar kepada raja dan ratu ini sebagai “Catholic Monarch” atau “Los Reyes Catolicos” atau Raja Katolik.
Kejatuhan Daulah Bani Ahmar merupakan akhir sejarah kejayaan Islam di Spanyol. Pasca kejatuhan kerajaan Islam terakhir ini, umat Islam diberi dua pilihan: berpindah keyakinan (masuk Kristen) atau keluar dari tanah Spanyol.
Memasuki Abad 16, Andalusia (Spanyol) yang selama 8 Abad dalam kekuasaan Islam, bersih dari keberadaan umat Islam. Kemegahan dan keindahan Istana Alhambra pun luntur setelah menjadi Istana Kristen. Demikian pula Masjid Cordova yang dijadikan katedral “Virgin of Assumption”.
Namun Islam tidak benar-benar lenyap di negeri ini. Kini umat Islam di Spanyol diperkirakan sudah mencapai 750.000 orang (data sensus 2000) dari 40 juta jumlah total penduduk Spanyol. Islam menggeliat bangkit ketika pemerintah Spanyol mengakui Islam sebagai agama resmi berdasarkan UU Kebebasan Beragama yang disahkan pada Juni 1967.

*dikutip dari berbagai sumber

Islam di Andalusia (Spanyol)

Sumber Gambar: http://patahkekeringan.blogspot.co.id

Spanyol selama ini dikenal sebagai negara matador, negara yang mempunyai kebiasaan adu banteng. Negara yang nama aslinya Estado Espanyol ini merupakan salah satu negara tertua di dunia. Ia merupakan bangsa penakluk dan paling luas pengaruhnya pada masa lampau. Bahkan pada masa Hapsburg pernah menjadi negara adi kuasa di dunia. Tetapi generasi selanjutnya, tidak mewariskan pembaruan yang berarti. Mayoritas penduduknya beragama Katholik hingga mencapai 90% dari jumlah keseluruhan.

Bila di terawang lebih jauh, negara yang dahulunya disebut Andalusia itu menyimpan sejarah yang panjang. Sebuah sejarah Islam yang penuh dengan warna; kejayaan dan keruntuhan Islam, simbol perlawanan kaum muslim terhadap Kristenisasi yang dilancarkan Barat, dan berbagai kegelisahan yang melanda kaum muslim Spanyol.

Islam di awal perkembangannya merambah hingga Afrika dan Eropa, termasuk sebagian besar semenanjung Iberia yang kini dikenal sebagai wilayah Portugal dan Spanyol. Secara historis, munculnya Islam di Spanyol dimulai dari perjuangan yang dilakukan Thariq ibnu Ziyad. Saat itu sebanyak 7.000 pasukan yang dipimpinnya tiba di dataran Andalusia. Mereka mengarungi selat yang memisahkan tanah Maroko di Afrika Utara dengan Eropa. Peristiwa pada tahun 711 itu mengawali masa-masa Islam di Spanyol.

Thariq mengalahkan pasukan Raja Rodherick di Bakkah. Setelah itu maju untuk merebut kota Cordoba, Granada dan Toledo. Ketika merebut Toledo, Thariq di perkuat dengan 5.000 orang tentara tambahan yang dikirim Gubernur Musa ibnu Nushair. Thariq sukses. Bukit-bukit di pantai tempat pendaratannya lalu dinamai Jabal Thariq, yang kemudian populer dengan nama Gibraltar.

Selanjutnya Islam mengalami masa kegemilangan di Spanyol. Tempat-tempat strategis, seperti jalan-jalan dan pasar-pasar, yang tadinya hancur direhab. Distribusi tekstil, kayu, logam dan industri barang-barang tembikar semakin lancar. Dibidang pertanian, mulai dikenalkan sistem irigasi yang lebih maju kepada masyarakat Spanyol yang sebelumnya buta akan teknik bertani. Mereka diajarkan membuat roda air (water wheel) penggerak pompa hidrolik. Bagi petani yang tinggal jauh dari sumber air, atau dataran-dataran tinggi dibuatkan dam, saluran sekunder, tersier dan jembatan air.

Sejumlah bangunan Islam juga mulai didirikan, diantaranya; Masjid Cordoba, tembok Toledo, Masjid Sevilla, Istana Al-Hamra Granada dan sebagainya. Perkembangan Islam semakin luar biasa dengan lahirnya filsuf-filsuf muslim. Sebut saja : Ibnu Bajjah, Ibnu Tufail dengan karya monumentalnya Hayy bin Yaqdzan, Abbas ibnu Fammas (pakar kimia dan astronomi) dan Ibnu Rusyd.

Di Cordoba yang menjadi pusat ilmu dan teknologi Islam, sekaligus pusat kebangkitan (renaissance) Eropa itu dibangun pula patung-patung para tokoh terkenal abad pertengahan, seperti: patung Ibnu Rusyd (Averroes) dan muridnya Musa bin Maimun (Maimonedes).

Kekayaan umat Islam di Spanyol sejak zaman Cordoba (756-1031) hingga zaman Granada (1232-1492) berdampak positif terhadap kehidupan umat agama lain. Terutama Yahudi yang dihina dan dianiaya di seluruh Eropa, tetapi mendapat tempat terhormat di kalangan umat Islam Spanyol. Solomon ben Gazirol, penulis buku History of the Jews (1986) menyebutkan masa pemerintahan umat Islam di Spanyol adalah masa keemasan (the golden age).

Sayangnya, kekayaan Islam hanya bertahan sampai sekitar 750 tahun. Setelahnya, muslim di Spanyol mulai tak berdaya dan tak bisa berbuat banyak di negeri itu. Tonggak perjuangan yang di pancangkan oleh Thariq bin Ziyad, lambat laun mulai terisolir. Berbagai kemajuan dalam bidang sains dan teknologi hanya menjadi kenangan-kenangan manis. Kondisi Islam berbalik drastis, ibarat bintang yang telah runtuh dari mahkotanya akibat gencetan-gencetan Kristen Spanyol dan tidak konsistennya orang Islam sendiri.

Analisis yang ada mencatat bahwa kemunduran Islam di Spanyol disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, kelengahan para penguasa muslim. Mereka terkena oleh kekuasaan yang didapatinya tanpa mau mengembangkan lebih jauh, bahkan tidak siap mengantisipasi tantangan-tantangan yang datang dari Barat. Kedua, tidak ada persatuan dan kesatuan diantara kaum muslim. Sikap yang ditunjukkan muslim pribumi terasa tidak bersahabat dengan muslim pendatang, bahkan seperti musuh.

Ketiga, sistem peralihan kekuasaan yang tak jelas. Diantara ahli waris kerajaan saling berebut tahta. Keempat, kesulitan ekonomi. Fokus pembangunan hanya tercurah pada bidang ilmu pengetahuan. Akibatnya, ketika krisis ekonomi melanda, mereka tak mampu bangkit lagi.

Di sisi lain, kaum Kristen terus mengoyak-oyak kehidupan kaum muslim. Mereka bertekad merampas kota-kota yang diduduki kaum muslim sampai seluruhnya bisa dikuasai.

Kaum muslimin akhirnya kehilangan semua kekuasaannya di Spanyol pada 1492. Oleh penguasa Kristen 1502 mengeluarkan perintah mengharuskan semua umat Islam masuk agama Kristen, dan ketika ini tidak berhasil, mereka memaksakan pembatasan brutal kepada Muslim Spanyol yang masih tersisa.
Dikutip dari berbagai sumber.

Jumat, 15 Januari 2016

Hati

Hati...
Sejatinya tak ada yang mampu memahami selain diri
Sejatinya memendam beribu rasa yang tak mampu diucap
Sejatinya merindu namun tak tau siapa yang dirindu
Sejatinya menjerit tak sanggup menahan gejolak
Sejatinya sunyi tak ada yang mendekap
Sejatinya kosong tak ada yang mengisi
Sejatinya tau siapa yang harus dituju
Tuhan….

Kejayaan Spanyol Kembali atau Belgia Ciptakan Kejutan?

Laga perempat final lainnya mempertemukan dua kekuatan besar Eropa, Spanyol dan Belgia. Spanyol pernah menikmati masa kejayaan dengan meraih...