Kejayaan Spanyol Kembali atau Belgia Ciptakan Kejutan?



Laga perempat final lainnya mempertemukan dua kekuatan besar Eropa, Spanyol dan Belgia. Spanyol pernah menikmati masa kejayaan dengan meraih tiga gelar bergengsi secara beruntun, yakni juara Euro 2008, Piala Dunia 2010, dan Euro 2012. Namun, setelah itu performa La Roja sempat mengalami penurunan, termasuk tersingkir lebih awal pada edisi Piala Dunia sebelumnya. Di bawah asuhan pelatih baru, Spanyol kembali menunjukkan kebangkitannya dengan menjuarai Euro 2024 serta finis sebagai runner-up UEFA Nations League 2025. Kebangkitan tersebut menjadi modal penting bagi La Roja untuk kembali berburu gelar dunia.

Di sisi lain, Belgia kembali datang sebagai salah satu kekuatan yang patut diperhitungkan di Eropa. Meski era generasi emas yang dihuni Eden Hazard, dkk telah berakhir, De Rode Duivels berhasil melakukan regenerasi dengan cukup baik. Di bawah asuhan Rudi Garcia, Belgia kini mengandalkan kombinasi pemain muda berbakat dan sejumlah pemain berpengalaman yang tetap menjadi tulang punggung tim.

Perjalanan ke Perempat Final

La Furia Roja melaju ke babak perempat final dengan performa yang meyakinkan. La Roja tampil sebagai juara Grup H setelah mencatatkan hasil konsisten sepanjang fase grup. Memasuki fase gugur, pasukan Luis de la Fuente semakin menunjukkan kualitasnya dengan menyingkirkan Portugal 1-0 pada babak 16 besar. Dominasi penguasaan bola, organisasi permainan yang rapi, serta efektivitas dalam memanfaatkan peluang menjadi kunci keberhasilan Spanyol menjaga asa meraih gelar juara dunia kedua.

Sementara itu, Belgia juga menunjukkan karakter kuat dalam perjalanan menuju babak perempat final. Setelah keluar sebagai juara Grup G, De Rode Duivels menghadapi ujian berat saat bertemu Senegal di babak 32 besar. Sempat tertinggal dua kali, Belgia mampu bangkit melalui permainan menyerang yang agresif hingga membalikkan keadaan dan meraih kemenangan dramatis 3-2. Momentum kebangkitan tersebut berlanjut di babak 16 besar ketika Belgia tampil dominan dengan mengalahkan Amerika Serikat 4-1. Dua kemenangan itu menjadi bukti bahwa Belgia tidak hanya memiliki kualitas individu yang mumpuni, tetapi juga mentalitas pantang menyerah saat berada di bawah tekanan.

Deja vu Minim Gol Spanyol

Perjalanan Spanyol di Piala Dunia 2026 seolah menghadirkan deja vu kesuksesan mereka pada edisi 2010. Hingga babak perempat final, La Roja telah mencetak 8 gol, sama seperti total gol mereka saat menjuarai Piala Dunia 2010. Namun, produktivitas itu tidak tersebar merata karena enam gol tercipta saat menghadapi Arab Saudi dan Austria, sedangkan laga lainnya berakhir imbang 0-0 melawan Cape Verde serta kemenangan tipis 1-0 atas Uruguay dan Portugal. Separuh dari total gol tersebut dicetak oleh Mikel Oyarzabal yang telah mengoleksi 4 gol, sementara empat gol lainnya dibagi oleh tiga pemain berbeda. Meski produktivitas belum merata, Spanyol tetap tampil dominan lewat ball possession yang menjadi ciri khas mereka. Penguasaan bola yang tinggi membuat La Roja mampu mengontrol jalannya pertandingan dan menjaga pertahanan tetap solid dengan 5 clean sheet tanpa kebobolan.

Belgia yang Produktif

Berbeda dengan Spanyol, Belgia tampil sebagai salah satu tim paling produktif di Piala Dunia 2026. Setan Merah telah mengoleksi 15 gol, terbanyak di antara seluruh tim yang masih bertahan di turnamen. Ketajaman mereka juga tidak bergantung pada satu pemain. Charles De Ketelaere memimpin daftar pencetak gol tim dengan empat gol, disusul Romelu Lukaku yang mengoleksi tiga gol. Jeremy Doku, Kevin De Bruyne, dan Youri Tielemans masing-masing menyumbang dua gol, sementara Hans Vanaken dan Loïs Openda turut mencatatkan namanya di papan skor. Produktivitas yang merata serta variasi serangan inilah yang akan menjadi ujian terbesar bagi lini pertahanan Spanyol yang hingga kini belum sekalipun kebobolan dan menjadi tim dengan clean sheet terbanyak di turnamen.

Fun Fact: Curtois dan De Bryune, Satu Tim Tidak Saling Sapa

Pada 2012, hubungan antara Kevin De Bruyne dan Thibaut Courtois dikabarkan mulai merenggang setelah mantan kekasih De Bruyne, Caroline Lijnen, ketahuan berselingkuh dengan Courtois saat keduanya berada di Madrid. Sejak saat itu, De Bruyne disebut memutus hubungan personal dengan Courtois dan tidak lagi menganggapnya sebagai teman. Meski demikian, keduanya tetap menunjukkan sikap profesional setiap kali membela tim nasional Belgia walau tanpa bertegur sapa di dalam dan luar lapangan.

Duel Spanyol dan Belgia diprediksi akan menjadi pertarungan dua filosofi yang berbeda. Spanyol akan mengandalkan dominasi ball possession dan pertahanan yang kokoh, sementara Belgia mengusung lini serang yang lebih produktif dengan distribusi gol yang merata. Jika La Roja mampu mengendalikan tempo permainan seperti yang mereka lakukan sepanjang turnamen, peluang untuk melaju ke semifinal terbuka lebar. Namun, apabila Belgia berhasil memanfaatkan transisi cepat dan efektivitas lini depannya, bukan tidak mungkin si Setan Merah dapat menjadi tim pertama yang membobol gawang Spanyol sekaligus menghentikan langkah La Furia Roja di Piala Dunia 2026.


Disclaimer: artikel ini dirangkai dari berbagai sumber.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Treble Winner dan Rekor Sapu Bersih Kemenangan, nikmat mana lagi yang kamu dustakan? [Review Pertandingan]

Misi Balas Dendam! Maroko Siap Hadapi Prancis dengan Segala Kengeriannya

Hati